Bukan Sekadar Rupiah Melemah, FINE Institute Sebut Investor Global Mulai Meragukan Ketahanan Pasar Indonesia

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, TNGarda.com – Tekanan yang terus membayangi pasar keuangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 dinilai tidak sekadar mencerminkan koreksi harga saham maupun pelemahan nilai tukar rupiah.

FINE Institute menilai kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas dan ketahanan sistem keuangan nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Muhammadiyah Resmikan Sekolah Konservasi Pertama di Indonesia, Lahir dari Tanah Papua Barat

Co-Founder FINE Institute sekaligus Analis Ekonomi Politik Pasar Keuangan, Kusfiardi, mengungkapkan bahwa koreksi yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah merupakan sinyal bahwa pasar tengah mengevaluasi tingkat kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia secara menyeluruh.

Menurutnya, hampir 33 persen koreksi IHSG sejak puncak Januari 2026 serta pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS tidak bisa dipandang sebagai gejolak biasa.

Gubernur Apolo Safanpo: Proyek Tebu Merauke Serap 3.500 Tenaga Kerja, Prioritaskan Orang Asli Papua

Kusfiardi menjelaskan bahwa tekanan pasar memang dipengaruhi sejumlah faktor global, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan tingginya suku bunga internasional.

Namun, kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar.

Terutama terkait struktur pasar yang masih relatif dangkal dan tingginya ketergantungan terhadap arus modal asing.

FINE Institute juga menyoroti dampak rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 yang menyebabkan sejumlah saham besar Indonesia keluar dari indeks tersebut.

Keputusan tersebut memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dan meningkatkan tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar rupiah.

Kondisi ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar keuangan Indonesia terhadap keputusan lembaga keuangan global.

NU Care LAZISNU Salurkan Daging Kurban hingga Palestina, Ribuan Warga 3T dan Korban Bencana Tersentuh Bantuan

Selain itu, data menunjukkan bahwa tekanan di pasar saham jauh lebih besar dibandingkan pelemahan rupiah.

Sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 10 persen, sementara IHSG terkoreksi hampir 30 persen.

Baca Juga:  Kapolres, Dandim, dan Danlanal Kawal Longmarch Mahasiswa di Nabire

Perbedaan ini menunjukkan bahwa investor global tidak hanya mengurangi eksposur terhadap mata uang rupiah, tetapi juga melakukan penyesuaian ulang terhadap tingkat risiko investasi di Indonesia.

Pemandangan Ini Mengharukan, TNI Rela Turun Tangan Demi Masa Depan Anak-Anak Papua

Di tengah tekanan tersebut, investor domestik mulai memainkan peran sebagai penyangga pasar dengan menyerap sebagian aksi jual asing.

Namun demikian, kapasitas investor institusional dalam negeri dinilai masih belum cukup besar untuk menjadi penyeimbang utama ketika terjadi perubahan arus modal global dalam skala besar.

Menurut Kusfiardi, tantangan terbesar saat ini bukan semata-mata berada pada level IHSG atau kurs rupiah.

Guru Honorer Terancam Dihapus 2027, Legislator PKS Bongkar Bahaya Besar bagi Sekolah di Daerah

Yang sedang diuji oleh pasar adalah kredibilitas kebijakan ekonomi serta kemampuan pemerintah dan otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Selama tingkat kepercayaan investor belum pulih, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi.

FINE Institute menilai berbagai proyeksi optimistis terkait potensi penguatan rupiah menuju kisaran Rp15.000 per dolar AS perlu disikapi secara realistis.

Kapolda Papua Tengah Pimpin Konferensi Pers Pengungkapan Kasus Curas, Curat, dan Curanmor Periode Januari–Mei 2026

Meski secara teoritis memungkinkan, penguatan tersebut memerlukan kombinasi faktor pendukung seperti masuknya kembali modal asing, meningkatnya devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

Tanpa dukungan faktor-faktor tersebut, target penguatan rupiah dinilai masih sulit tercapai dalam waktu dekat.

Satgas Damai Cartenz Tangkap Terduga Anggota KKB Intan Jaya, Diduga Terlibat Penembakan dan Pembakaran

Sebagai langkah jangka panjang, FINE Institute mendorong reformasi struktural di sektor keuangan, termasuk memperdalam pasar modal, memperkuat investor institusional domestik, meningkatkan free float saham, serta memperbaiki tata kelola pasar.

Reformasi tersebut dinilai penting agar pasar keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap guncangan eksternal dan tidak terus bergantung pada sentimen global maupun arus modal asing.

 

Penulis : Afif Fudin

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Promedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel tngarda.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepala Staf Kepresidenan dan MenPANRB Bahas Penguatan Tata Kelola MBG dan Integrasi Layanan Publik Nasional
Ungkap Ada Indikasi Penyelewengan MBG, Prabowo Perintahkan Pengawasan Ketat di Seluruh Indonesia
Refleksi Hari Lahir Pancasila 2026, Prijanto Rabbani: Pancasila Pemersatu Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia
Begini Cara NU Care LAZISNU Jaga Daging Kurban Tetap Halal, Sehat, dan Bebas Limbah
NU Care LAZISNU Salurkan Daging Kurban hingga Palestina, Ribuan Warga 3T dan Korban Bencana Tersentuh Bantuan
Muhammadiyah Terima Hibah Tanah dari Warga Gunungkidul, Dipercaya Kelola Aset Umat untuk Masa Depan
Wajib Tahu! Begini Prosedur Jual Beli Tanah yang Legal dan Aman Menurut ATR / BPN
Singgung Islam Rahmatan Lil Alamin, Haedar Nashir Bongkar Tantangan Besar Indonesia Menuju Negara Maju
Berita ini 9 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:25 WIB

Kepala Staf Kepresidenan dan MenPANRB Bahas Penguatan Tata Kelola MBG dan Integrasi Layanan Publik Nasional

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:46 WIB

Ungkap Ada Indikasi Penyelewengan MBG, Prabowo Perintahkan Pengawasan Ketat di Seluruh Indonesia

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:15 WIB

Refleksi Hari Lahir Pancasila 2026, Prijanto Rabbani: Pancasila Pemersatu Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:35 WIB

Bukan Sekadar Rupiah Melemah, FINE Institute Sebut Investor Global Mulai Meragukan Ketahanan Pasar Indonesia

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:01 WIB

Begini Cara NU Care LAZISNU Jaga Daging Kurban Tetap Halal, Sehat, dan Bebas Limbah

Berita Terbaru