
TANGERANG, TNGarda.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa sistem keagamaan memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan bangsa.
Menurutnya, Indonesia tidak akan mampu menjadi negara maju apabila mengabaikan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar Nashir saat menghadiri Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) yang berlangsung di Tangerang, Senin (18/5).
TNI AL dan Italian Navy Sepakat Perkuat Pertahanan Laut, Teknologi Siber Jadi Fokus Utama
Dalam forum itu, ia membahas berbagai faktor penting yang menjadi penentu kemajuan suatu bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Haedar menjelaskan, terdapat tujuh unsur utama yang menjadi penyangga kemajuan sebuah negara, yakni bahasa, sistem organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, teknologi dan peralatan, ekonomi, serta sistem religi atau kepercayaan.
Ketujuh unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban yang maju.
10 Pendulang Emas Tewas di Awimbon, Satgas Damai Cartenz Buru KKB Pimpinan Ronald Hiluka
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar karena masyarakatnya dikenal religius dan menjadikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pandangan keagamaan masyarakat juga harus berkembang secara maju, terbuka, dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Kalau Indonesia ingin maju, maka pandangan keagamaannya juga harus maju,” ujar Haedar di hadapan peserta forum rektor PTMA.
Pemerintah Larang Marketplace Naikkan Biaya Layanan, Menteri UMKM Ancam Tindak Tegas Platform Nakal
Haedar menilai, kemajuan bangsa tidak cukup hanya ditopang pembangunan ekonomi dan teknologi.
Ia menekankan bahwa kualitas moral, etika, serta cara pandang masyarakat terhadap agama turut menentukan arah pembangunan nasional di masa depan.
Di sisi lain, Haedar mengingatkan adanya tantangan berupa sikap kesombongan etnografis dan religio-etnografis yang dapat menghambat kemajuan bangsa.
Kebakaran di Morgo Nabire Hanguskan Dua Rumah, LAZ Mitra Rumah Zakat Insan Mandiri Salurkan Bantuan
Sikap tersebut muncul ketika suatu kelompok merasa paling unggul dibanding kelompok lain, termasuk dalam cara memahami dan mempraktikkan agama.
Ia mencontohkan munculnya anggapan bahwa wajah Islam di Indonesia dianggap paling damai dibanding negara lain.
Menurut Haedar, klaim tersebut tidak boleh hanya menjadi kebanggaan semata, sebab sejarah juga mencatat pernah terjadi konflik sosial dan kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia.
PKS Warning Pemerintah dan BI! Kepercayaan Pasar Bisa Goyah Jika Rupiah Terus Tertekan
Karena itu, Haedar menegaskan bahwa konsep Islam rahmatan lil alamin harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, kata dia, perlu diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata untuk mencerdaskan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan keadilan.
Lebih lanjut, Haedar mengajak seluruh organisasi Islam dan elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun peradaban yang maju melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan gerakan kemanusiaan.
PBNU Kutuk Serangan Israel di Lebanon Selatan, Ribuan Sipil Tewas dan Jutaan Mengungsi
Menurutnya,umat Islam Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi teladan peradaban Islam modern di tingkat global apabila mampu menghadirkan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan nyata.
Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah dan narasi keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Implementasi nilai-nilai itu dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, hingga pembangunan sosial yang berkeadilan.
Penulis : Afif Fudin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Muhammadiyah






