
JAKARTA, TNGarda.com — Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Muhammad Kholid menekankan pentingnya pengelolaan ekspektasi pasar secara strategis di tengah tekanan terhadap nilai tuk
ar rupiah dan dinamika ekonomi global. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/05).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kholid, stabilitas ekonomi tidak cukup hanya dijaga melalui kebijakan teknis moneter, tetapi juga melalui kemampuan otoritas dalam membangun kepercayaan publik dan pelaku pasar.
Ia menilai persepsi pasar memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan ekonomi, terutama dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini.
“Dalam situasi saat ini, terutama dalam konteks nilai tukar rupiah, perlu ada strategic management of expectation. Jadi bagaimana mengelola ekspektasi itu strategis, bukan hanya kebijakan teknis moneter,” ujar Kholid.
Sekjen DPP Partai Keadilan Sejahtera itu menjelaskan bahwa pelaku pasar kini lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kondisi ekonomi masa depan dibanding sekadar data historis atau kondisi saat ini.
Prabowo Bongkar Strategi Ekonomi 2027, Target Pertumbuhan 6,5 Persen dan Rupiah Tetap Stabil!
Karena itu, komunikasi kebijakan yang jelas dan koordinasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar.
Ia juga mengutip teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom peraih Nobel, Robert Lucas, untuk menggambarkan bagaimana investor dan pelaku pasar membentuk persepsi terhadap arah ekonomi nasional.
“Pelaku pasar, investor, hedge fund, industri, itu membuat pricing yang rasional bukan hanya berdasarkan data kemarin atau hari ini, tetapi ekspektasi masa depan. Itu tugas besar otoritas, termasuk otoritas moneter,” katanya.
Menteri Desa Yandri Susanto Ingatkan Bahaya Narkoba di Maros, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Kholid menilai koordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan harus tampil solid dalam membangun optimisme pasar.
“KSSK harus menjadi A-team yang solid untuk menangani ekspektasi di masa depan. Otoritas harus loud and clear menyampaikan bahwa kondisi hari ini tidak sama dengan 1998,” tegasnya.
Wujud Kepedulian TNI, Koramil 1705/01/Nabire Bersihkan Puing Kebakaran Bersama Masyarakat
Ia mengingatkan bahwa persepsi publik masih dibayangi trauma krisis moneter 1998.
Menurutnya, pemerintah dan otoritas keuangan perlu aktif memitigasi persepsi tersebut melalui komunikasi yang konsisten, terbuka, dan berbasis data agar masyarakat tidak mudah terpengaruh sentimen negatif.
“Kita mengalami anchoring bias, ada trauma persepsi 1998. Padahal kondisi sekarang totally different dengan 1998,” ujarnya.
Pangkalan TNI AU Segera Dibangun di Manokwari Selatan, Papua Diproyeksi Jadi Pusat Strategis Baru
Kholid menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini masih jauh berbeda dibandingkan krisis 1998, baik dari sisi fundamental ekonomi nasional maupun struktur utang luar negeri sektor swasta yang kini dinilai lebih terkendali.
“Dulu private sector utang luar negerinya luar biasa besar dalam bentuk dolar. Sekarang kondisinya berbeda. Karena itu confidence level harus dinaikkan agar market percaya kepada otoritas,” lanjutnya.
Mobil Perpustakaan Keliling Lanal Nabire Tumbuhkan Literasi di Sekolah Pesisir
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia telah beberapa kali berhasil melewati berbagai tekanan ekonomi global, mulai dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, taper tantrum 2013, hingga pandemi Covid-19.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menjaga optimisme dan stabilitas ekonomi nasional.
“Kita pernah mengalami fase-fase krisis sebelumnya dan bisa melewati itu. Maka optimisme dan confidence level itu harus dikelola dengan baik secara institusional,” katanya.
Kapolda Papua Tengah Apresiasi Sinergi TNI-Polri dalam Pengamanan Aksi Mahasiswa Puncak
Selain membangun optimisme, Kholid meminta pemerintah dan otoritas ekonomi tetap transparan dan jujur dalam menyampaikan berbagai tantangan ekonomi yang masih perlu diperbaiki.
Ia menegaskan bahwa reformasi dan koordinasi antarsektor harus terlihat nyata agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
“Market harus melihat ada reform, ada soliditas yang luar biasa antara sektor moneter, industri jasa keuangan, dan fiskal,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kholid juga meminta Bank Indonesia memperkuat forward guidance dan komunikasi kebijakan agar pasar memiliki arah yang jelas dan kepastian dalam mengambil keputusan ekonomi.
“Kalau strategic management of expectation belum dilakukan maksimal, maka operasi moneter dan intervensi market bisa kehilangan ruh dan kredibilitasnya,” pungkasnya.
Penulis : Afif Fudin
Editor : Afif Fudin
Sumber Berita: PKS






