
Jakarta,TNGarda.com – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat terus menjadi sorotan publik di media sosial.
Setelah viralnya video protes peserta terkait penilaian juri yang dianggap tidak adil, kini perhatian warganet tertuju pada sikap MC dan dewan juri dalam menangani keberatan peserta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warganet ramai mengecam respons MC acara, Shindy Lutfiana, yang dinilai tidak menunjukkan empati terhadap peserta dari SMAN 1 Pontianak yang melakukan protes atas keputusan dewan juri.
Ancaman Siber Makin Nyata! TNI AU Kerahkan Operasi Pernika dan Cyber Warfare Selama 3 Hari Penuh
Dalam video yang beredar luas di media sosial, Shindy dianggap melakukan “gaslighting” karena menyebut keberatan peserta hanya sebatas perasaan semata.
“Baik adik-adik, keputusan di dewan juri karena dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengar jawaban dari adik-adik.
Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti bisa dilihat tayangan ulangnya,” ujar Shindy saat itu.
TNI Bergerak Cepat Bersihkan Stadion Lukas Enembe Pasca Kericuhan Suporter Persipura
Pernyataan tersebut memicu kemarahan publik. Banyak warganet menilai ucapan tersebut tidak pantas disampaikan dalam forum resmi, terlebih kepada siswa yang sedang memperjuangkan keberatan mereka.
Menyadari polemik yang berkembang, Shindy akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa, 12 Mei 2026.
Dalam unggahannya, ia mengakui bahwa kalimat “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja” merupakan ucapan yang tidak seharusnya disampaikan.
Guru Honorer Terancam Dihapus 2027, Legislator PKS Bongkar Bahaya Besar bagi Sekolah di Daerah
“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu, ‘Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulis Shindy.
Ia juga mengaku memahami bahwa pernyataannya telah menimbulkan kekecewaan dan melukai banyak pihak.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak,” lanjutnya.
Proyek Raksasa Pantura Dimulai! Ossy Dermawan Beberkan 3 Jurus Kunci ATR BPN
Permintaan maaf tersebut secara khusus ditujukan kepada peserta lomba, guru pendamping, hingga masyarakat Kalimantan Barat yang mengikuti jalannya perlombaan.
“Khususnya kepada adik-adik peserta lomba, guru-guru pendamping/pembimbing dari SMA Negeri 1 Pontianak, serta seluruh masyarakat terutama masyarakat Provinsi Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Shindy juga menyebut insiden ini menjadi pelajaran penting bagi dirinya agar lebih berhati-hati dalam menggunakan diksi saat tampil di ruang publik.
Kemensos Bongkar Sistem Baru Bansos Digital, Data Penerima Kini Diawasi Ketat Lewat DTSEN
Sementara itu, kontroversi bermula ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dinilai memiliki substansi sama terkait proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, dewan juri yang saat itu dipimpin Kepala Biro Pengkajian Konstitusi, Dyastasita Widya Budi, memberikan nilai berbeda.
SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima (-5), sedangkan SMAN 1 Sambas memperoleh nilai sempurna 10.
Prabowo Resmikan 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih, Dilengkapi Cold Storage hingga SPBN
Keputusan tersebut langsung diprotes oleh peserta SMAN 1 Pontianak karena merasa jawaban mereka identik dengan jawaban grup lain.
Meski demikian, protes tersebut tetap ditolak dengan alasan artikulasi jawaban peserta dinilai kurang jelas terdengar oleh dewan juri.
Polemik yang terus meluas akhirnya membuat pihak MPR RI bersama Badan Sosialisasi MPR RI mengambil langkah tegas.
Melalui klarifikasi resmi yang disampaikan kepada publik, pihak MPR menyatakan telah menonaktifkan juri serta MC terkait dari kegiatan LCC sebagai bentuk evaluasi atas insiden tersebut.
Langkah tersebut pun menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai keputusan itu sebagai bentuk tanggung jawab MPR RI terhadap polemik yang terjadi.
Sementara lainnya meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem penilaian lomba agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Penulis : Afif
Editor : Fudin
Sumber Berita: Promedia


