
Jakarta,TNGarda.com — Pemerintah Indonesia mengajak negara-negara anggota ASEAN memperkuat solidaritas dan kerja sama strategis dalam menghadapi krisis global yang semakin kompleks akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta meningkatnya tantangan geopolitik kawasan.
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam pertemuan ASEAN Foreign Minister’s Meeting (AMM) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas, kepercayaan, dan sentralitas ASEAN di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian.
“Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, ASEAN tetap menjadi mitra yang terpercaya, stabil, dan dapat diandalkan,” ujar Sugiono.
Pernyataan itu memperkuat posisi ASEAN sebagai kawasan strategis yang dinilai mampu menjaga keseimbangan diplomasi, keamanan, dan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang terus meningkat.
Sugiono juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Filipina sebagai Ketua ASEAN yang dinilai aktif mengoordinasikan respons bersama negara-negara anggota dalam menghadapi berbagai krisis internasional dan tantangan regional.
Menurutnya, meningkatnya jumlah negara yang bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) menjadi bukti tingginya kepercayaan internasional terhadap ASEAN sebagai kawasan yang stabil dan terbuka terhadap kerja sama.
Indonesia turut mendorong penguatan hubungan ASEAN dengan berbagai mitra strategis global.
Dalam kesempatan itu, Sugiono menyampaikan dukungan Indonesia agar Turkiye segera menjadi mitra wicara ASEAN guna memperluas kolaborasi ekonomi dan diplomasi kawasan.

Selain itu, Indonesia kembali menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik dan keamanan di Myanmar, sekaligus mendukung proses aksesi Timor-Leste sebagai anggota baru ASEAN.
Sementara itu, dalam pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, mengingatkan bahwa perekonomian ASEAN kini menghadapi ancaman perlambatan akibat eskalasi konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Satgas Damai Cartenz Datangi Sinak, Aksi Humanis Personel Ini Bikin Warga Papua Terharu
Menurut Airlangga, konflik global telah memicu gangguan rantai pasok energi, kenaikan harga komoditas, serta tekanan terhadap ketahanan pangan di kawasan Asia Tenggara.
“Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN dengan mitra strategis,” kata Airlangga.

Indonesia menilai penguatan kerja sama perdagangan melalui skema ASEAN Plus One Free Trade Agreements (FTAs) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kawasan tetap stabil.
Selain itu, ASEAN juga didorong memaksimalkan kerja sama ketahanan energi seperti ASEAN Power Grid (APG) dan ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA) guna menghadapi potensi krisis energi global.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa sentralitas ASEAN harus terus diperkuat agar kawasan mampu membangun rantai pasok yang tangguh, menjaga stabilitas ekonomi regional, serta menghadapi dampak ketidak pastian geopolitik dunia secara kolektif.
Penulis : Afif
Editor : Fudin
Sumber Berita: Setkab RI


