
Yogyakarta, TNGarda.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada upacara, seremoni, dan pidato kebangsaan semata.
Menurutnya, tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan negara, perilaku elite, serta kehidupan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam refleksinya pada momentum Hari Lahir Pancasila, Haedar Nashir menilai bahwa implementasi nilai-nilai luhur Pancasila jauh lebih penting dibanding sekadar menghafal atau memperingatinya setiap tahun.
Jumat Berkah Brimob Kalteng Tuai Pujian, Ratusan Jamaah Masjid Al Amin Terima Nasi Kotak Gratis
Ia menekankan perlunya gerakan politik yang kuat, kolektif, dan sistematis untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pancasila harus menjadi praktik hidup, baik pada tingkat pribadi, kolektif, maupun dalam penyelenggaraan negara.
Politik yang dijalankan harus berlandaskan musyawarah dan hikmah kebijaksanaan, bukan sekadar perebutan kekuasaan dan kemenangan kelompok tertentu,” ujarnya.
Kebakaran di Morgo Nabire Hanguskan Dua Rumah, LAZ Mitra Rumah Zakat Insan Mandiri Salurkan Bantuan
Menurut Haedar, partai politik sebagai pilar demokrasi semestinya dikelola dengan menjunjung tinggi nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial.
Nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman moral dalam setiap proses politik dan pengambilan keputusan publik, bukan hanya slogan yang diucapkan saat momentum tertentu.
Haedar juga mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai dasar Pancasila telah benar-benar terlembagakan dalam sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, dan tata kelola pemerintahan di Indonesia.
Menurutnya, yang diperlukan saat ini bukanlah penafsiran yang berlebihan terhadap Pancasila, melainkan penguatan nilai dasarnya sebagai sumber etika, orientasi kebijakan, dan arah pembangunan nasional.
Ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan ideologi moderat yang tidak berpihak pada paham ekstrem apa pun.
Nilai-nilai yang terkandung dalam lima silanya menempatkan Indonesia pada posisi tengah yang menghargai agama, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
“Pancasila tidak berwatak sekuler, liberal, maupun kapitalistik yang berlebihan. Di sisi lain, Pancasila juga tidak berpijak pada ideologi ekstrem lainnya.
Karena itu, pemahaman terhadap Pancasila harus tetap berada dalam koridor moderasi,” jelasnya.
Dalam refleksinya, Haedar turut menyoroti berbagai persoalan struktural yang masih menjadi tantangan bangsa, mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi sumber daya alam, kesenjangan sosial, premanisme, hingga praktik oligarki.
Hidayat Nur Wahid Soroti Viral Cerdas Cermat, MPR Evaluasi Total Sistem Penjurian
Menurutnya, keberhasilan implementasi Pancasila harus diukur dari kemampuan negara menghadirkan keadilan sosial dan menyelesaikan berbagai persoalan tersebut secara sistematis, berkelanjutan, dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Jangan sampai kebijakan strategis negara lebih mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan rakyat banyak yang menjadi ruh utama Pancasila,” tegasnya.
Haedar juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi milenial, Generasi Z, dan Generasi Alfa.
Menurutnya, generasi muda saat ini tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga contoh nyata dari para pemimpin dan tokoh bangsa.
Ia menilai keteladanan merupakan kunci dalam membangun pemahaman kebangsaan yang kuat.
Para pejabat publik, elite politik, dan tokoh masyarakat harus menjadi role model yang mampu menunjukkan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Bangsa ini tidak membutuhkan Pancasila yang hanya ramai dibicarakan, tetapi Pancasila yang nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Pancasila tidak hadir dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sesungguhnya ia sedang perlahan menghilang dari bumi Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Afif Fudin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Muhammadiyah






