Haedar Nashir: Pancasila Harus Hadir dalam Kebijakan dan Kehidupan Nyata, Bukan Sekadar Seremoni

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, TNGarda.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada upacara, seremoni, dan pidato kebangsaan semata.

Menurutnya, tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan negara, perilaku elite, serta kehidupan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam refleksinya pada momentum Hari Lahir Pancasila, Haedar Nashir menilai bahwa implementasi nilai-nilai luhur Pancasila jauh lebih penting dibanding sekadar menghafal atau memperingatinya setiap tahun.

Jumat Berkah Brimob Kalteng Tuai Pujian, Ratusan Jamaah Masjid Al Amin Terima Nasi Kotak Gratis

Ia menekankan perlunya gerakan politik yang kuat, kolektif, dan sistematis untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pancasila harus menjadi praktik hidup, baik pada tingkat pribadi, kolektif, maupun dalam penyelenggaraan negara.

Politik yang dijalankan harus berlandaskan musyawarah dan hikmah kebijaksanaan, bukan sekadar perebutan kekuasaan dan kemenangan kelompok tertentu,” ujarnya.

Kebakaran di Morgo Nabire Hanguskan Dua Rumah, LAZ Mitra Rumah Zakat Insan Mandiri Salurkan Bantuan

Menurut Haedar, partai politik sebagai pilar demokrasi semestinya dikelola dengan menjunjung tinggi nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial.

Nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman moral dalam setiap proses politik dan pengambilan keputusan publik, bukan hanya slogan yang diucapkan saat momentum tertentu.

Haedar juga mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai dasar Pancasila telah benar-benar terlembagakan dalam sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, dan tata kelola pemerintahan di Indonesia.

MUI Nabire dan Dinas Peternakan Gelar Sosialisasi Qurban 1447 H, Ada Hal Penting yang Wajib Diketahui Masyarakat

Menurutnya, yang diperlukan saat ini bukanlah penafsiran yang berlebihan terhadap Pancasila, melainkan penguatan nilai dasarnya sebagai sumber etika, orientasi kebijakan, dan arah pembangunan nasional.

Ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan ideologi moderat yang tidak berpihak pada paham ekstrem apa pun.

Nilai-nilai yang terkandung dalam lima silanya menempatkan Indonesia pada posisi tengah yang menghargai agama, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Baca Juga:  Singgung Islam Rahmatan Lil Alamin, Haedar Nashir Bongkar Tantangan Besar Indonesia Menuju Negara Maju

TNI AU Perkuat Kerja Sama Pertahanan Indonesia Brunei di HUT ke 65 RBAF, Jupiter Aerobatic Team Tampil Istimewa

“Pancasila tidak berwatak sekuler, liberal, maupun kapitalistik yang berlebihan. Di sisi lain, Pancasila juga tidak berpijak pada ideologi ekstrem lainnya.

Karena itu, pemahaman terhadap Pancasila harus tetap berada dalam koridor moderasi,” jelasnya.

Dalam refleksinya, Haedar turut menyoroti berbagai persoalan struktural yang masih menjadi tantangan bangsa, mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi sumber daya alam, kesenjangan sosial, premanisme, hingga praktik oligarki.

Hidayat Nur Wahid Soroti Viral Cerdas Cermat, MPR Evaluasi Total Sistem Penjurian

Menurutnya, keberhasilan implementasi Pancasila harus diukur dari kemampuan negara menghadirkan keadilan sosial dan menyelesaikan berbagai persoalan tersebut secara sistematis, berkelanjutan, dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Jangan sampai kebijakan strategis negara lebih mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan rakyat banyak yang menjadi ruh utama Pancasila,” tegasnya.

Haedar juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi milenial, Generasi Z, dan Generasi Alfa.

Dinas Pendidikan Nabire Apresiasi Pelepasan dan Pentas Seni PAUDIT Insan Mandiri, Cetak Generasi Kreatif dan Berkarakter

Menurutnya, generasi muda saat ini tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga contoh nyata dari para pemimpin dan tokoh bangsa.

Ia menilai keteladanan merupakan kunci dalam membangun pemahaman kebangsaan yang kuat.

Para pejabat publik, elite politik, dan tokoh masyarakat harus menjadi role model yang mampu menunjukkan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

TNI AL dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 110 Koli Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp770 Juta di Sumut

“Bangsa ini tidak membutuhkan Pancasila yang hanya ramai dibicarakan, tetapi Pancasila yang nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Pancasila tidak hadir dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sesungguhnya ia sedang perlahan menghilang dari bumi Indonesia,” pungkasnya.

 

Penulis : Afif Fudin

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel tngarda.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aisyiyah Dorong Implementasi PP Tunas, Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperkuat
The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:24 WIB

Haedar Nashir: Pancasila Harus Hadir dalam Kebijakan dan Kehidupan Nyata, Bukan Sekadar Seremoni

Rabu, 1 April 2026 - 21:55 WIB

Aisyiyah Dorong Implementasi PP Tunas, Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperkuat

Selasa, 28 Maret 2023 - 23:44 WIB

The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone

Berita Terbaru