
Acara dimulai sekitar pukul 17.40 WIT dan berlangsung hingga pukul 20.05 WIT. Berdasarkan pantauan di lokasi, sekitar 200 mahasiswa dan mahasiswi hadir mengikuti rangkaian kegiatan nobar hingga selesai.
Buntut Heboh Nilai Minus LCC MPR, Juri dan MC Kontroversial Akhirnya Dinonaktifkan
Kegiatan dipandu oleh Meki Tebai selaku penanggung jawab acara. Sebelum pemutaran film dimulai, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan Pemuda Katolik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain mahasiswa, kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRP dari Partai NasDem Dapil Timika, Nancy Raweyai, tokoh pemuda Norton Karugui, S.IP., M.Si, serta sejumlah aktivis dan pemerhati lingkungan di Papua.
Guru Honorer Terancam Dihapus 2027, Legislator PKS Bongkar Bahaya Besar bagi Sekolah di Daerah
Dalam penyampaiannya, Nancy Raweyai menyebut film dokumenter Pesta Babi bukan hanya sekadar tontonan atau kontroversi semata, melainkan ruang pembelajaran mengenai pentingnya penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat di Papua.
Menurutnya, film tersebut menjadi pengingat bahwa Papua bukan tanah kosong dan setiap pembangunan maupun proyek strategis nasional seharusnya melibatkan masyarakat adat sejak tahap awal perencanaan. Ia juga mengajak generasi muda Papua untuk tidak bersikap antipolitik karena kebijakan politik dinilai sangat menentukan masa depan Papua.
Ancaman Siber Makin Nyata! TNI AU Kerahkan Operasi Pernika dan Cyber Warfare Selama 3 Hari Penuh
Nancy Raweyai juga menyoroti dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan masyarakat Papua. Ia menilai perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling terdampak akibat kerusakan lingkungan dan konflik sosial yang terjadi di Papua.
Sementara itu, tokoh pemuda Norton Karugui, S.IP., M.Si menyampaikan bahwa film dokumenter tersebut mengangkat tiga isu utama di Papua, yakni proyek strategis nasional (PSN), militerisme, dan oligarki. Ia menilai masyarakat adat masih sering diabaikan dalam pelaksanaan berbagai proyek strategis nasional.
Norton Karugui juga meminta pemerintah daerah agar dapat menjadi penghubung antara masyarakat adat dan pemerintah pusat dalam setiap pelaksanaan kebijakan pembangunan di Papua. Selain itu, ia berharap aparat keamanan dapat mengedepankan pendekatan humanis dan tidak represif dalam pengamanan proyek-proyek strategis nasional.
Kegiatan yang dipandu oleh Mis Murib, S.Kom selaku aktivis kemanusiaan tersebut turut menghadirkan Tina You sebagai aktivis perempuan dan Jhon Giyai selaku Ketua Green Papua. Hingga kegiatan selesai, seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya gangguan keamanan maupun hambatan berarti.
Penulis : Rafi Yohan Malombeke


