
TNGARDA.com – Nabire, Papua Tengah – Aksi unjuk rasa bertajuk “Papua Tengah Mogok! Nabire Bergerak!” mewarnai Kota Nabire pada Senin, 27 April 2026. Massa terlihat terkonsentrasi di sejumlah titik strategis sebelum bergerak menuju pusat aksi di Kantor DPRP Nabire.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Tim Investigasi HAM Kabupaten Puncak bersama Mahasiswa Puncak se-Indonesia sebagai bentuk protes terhadap dugaan kekerasan terhadap warga sipil di wilayah Papua Tengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejak pukul 09.00 WIT, massa mulai berkumpul di beberapa titik, di antaranya Pasar Karang (Karang Tumaritis), Asrama Mahasiswa Puncak, Sriwini, Kali Harapan, dan Jepara II. Dari titik-titik tersebut, massa kemudian melakukan long march menuju Kantor DPR Provinsi Papua Tengah (DPRP) sebagai lokasi utama penyampaian aspirasi.
Aksi Besar di Nabire Disorot ! Kapolres: Demo Silakan, Tapi Jangan Sampai Ganggu Kepentingan Umum
Aksi dipimpin oleh Koordinator Lapangan (Koorlap) umum Ronias Murib, didampingi Wakil Koordinator Lapangan Nengho Labene. Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, pimpinan aksi dari Badan Pengurus KMPP se-Kota Studi Nabire menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap pendekatan militer yang dinilai berdampak pada keselamatan masyarakat sipil.
Berbagai spanduk dan pamflet dibentangkan oleh massa, di antaranya bertuliskan “Papua Butuh Keadilan Bukan Militerisme!” serta “Lawan! Tidak Diam! Papua Butuh Damai!”.

Kapolres Nabire Pimpin Apel Kesiapan, Tekankan Pengamanan Humanis Jelang Aksi Unjuk Rasa
Selain itu, massa juga mendesak DPRP Papua Tengah untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk membentuk panitia khusus (pansus) guna melakukan investigasi terhadap peristiwa tersebut.
“Kami hadir untuk memastikan suara rakyat Puncak didengar. DPRP harus segera bertindak dan tidak membiarkan kasus ini tanpa kejelasan hukum,” ujar salah satu orator dalam aksi tersebut.
Massa juga menegaskan komitmennya untuk menjaga aksi tetap berlangsung secara damai tanpa tindakan anarkis. Salah satu peserta aksi menyebutkan bahwa mereka hanya mengajukan izin untuk melakukan long march dari dua titik utama, yakni Asrama Puncak dan Pasar Karang Tumaritis.
Selama kegiatan berlangsung, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan pengamanan guna memastikan situasi tetap kondusif. Meski sempat terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol akibat mobilisasi massa, aktivitas masyarakat secara umum masih dapat berjalan dengan lancar.
Aksi berlangsung tertib hingga selesai, dengan massa membubarkan diri secara bertahap setelah menyampaikan aspirasi mereka.


