
Jakarta – TNGarda.com – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa skema WFH akan mulai diterapkan setelah Lebaran 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk ASN, tetapi akan diimbau pula kepada sektor swasta.
“WFH akan didetailkan, tetapi sesudah lebaran kita akan berlakukan,” ujar Airlangga di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Meski detail teknisnya masih dalam pembahasan, kebijakan ini dinilai sebagai langkah antisipatif di tengah tekanan global, khususnya di sektor energi.
Lanal Nabire Terima Kunjungan Bupati Mesak Magai, Perkuat Sinergi TNI AL dan Pemda
WFH Jadi Strategi Hemat Energi
Fenomena WFH bukan hanya terjadi di Indonesia. Beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Singapura, juga mulai mempertimbangkan kembali sistem kerja fleksibel.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya harga energi global.
Berdasarkan laporan Fortune, krisis bahan bakar akibat konflik geopolitik telah mendorong berbagai negara dan perusahaan untuk mengaktifkan kembali kebijakan kerja jarak jauh.
Tujuannya jelas:
mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Harga bensin di Amerika Serikat bahkan dilaporkan naik hampir 11 persen sejak 2024, dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
YONIF TP 804/DBAY GELAR HALAL BIHALAL, PERERAT SILATURAHMI USAI SHOLAT IDUL FITRI
Konflik Timur Tengah dan Dampaknya
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut mempersempit akses di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya.
Di sisi lain, Qatar—sebagai salah satu produsen utama Liquified Natural Gas (LNG)—dilaporkan sempat menghentikan produksi, sehingga memperburuk kondisi pasokan energi global.
Akibatnya, harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan dan berdampak pada sektor transportasi, industri, hingga rumah tangga di berbagai negara.
Sentuhan Humanis di Sinak, Satgas Damai Cartenz Bangun Kepercayaan Lewat Anak – anak
Belajar dari Krisis Energi 1970-an
Kondisi saat ini mengingatkan dunia pada krisis energi global di era 1970-an.
Pada Oktober 1973, negara-negara Arab yang tergabung dalam OPEC melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat sebagai respons atas dukungannya kepada Israel dalam Perang Yom Kippur.
Dampaknya sangat besar:
harga bahan bakar melonjak hingga 40 persen hanya dalam satu bulan, bahkan meningkat hingga tiga kali lipat pada 1974.
Selain kenaikan harga, pasokan energi juga sempat mengalami kelangkaan serius di berbagai negara.
Lanud SMH Perkuat Pengamanan Bandara SMB II Palembang Jelang Idulfitri 2026
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Saat ini, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz di Iran, yang menjadi jalur utama distribusi minyak mentah global.
Gangguan di wilayah ini berpotensi besar menghambat pasokan energi dunia dan memicu lonjakan harga yang lebih tinggi.
Sebagai respons, sejumlah negara mulai menerapkan kebijakan penghematan energi, seperti:
Pembatasan perjalanan dinas
Pengurangan jam kerja kantor
Penerapan kembali sistem kerja dari rumah (WFH)
1.447 Pemudik Tiba di Surabaya Naik KRI Banda Aceh 593, Program Mudik Gratis TNI AL 2026 Sukses
Kesimpulan
Kebijakan WFH yang akan diterapkan di Indonesia tidak hanya sekadar pengaturan kerja pasca-Lebaran.
Tetapi juga menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global, khususnya di sektor energi.
Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, langkah efisiensi seperti WFH dinilai menjadi solusi cepat untuk menekan konsumsi BBM tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi.***
Penulis : Afif
Editor : Afif
Sumber Berita: Setkab


