
NABIRE, TNGarda.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya 733 titik panas (hotspot) yang terpantau di Provinsi Papua Tengah berdasarkan pemantauan pada 23 Juli 2026 pukul 09.00 WIT.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 106 hotspot berada pada tingkat kepercayaan rendah, 577 hotspot tingkat kepercayaan sedang, dan 50 hotspot tingkat kepercayaan tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni mencapai 356 titik.
Modernisasi C-130HS Hercules Perkuat Kemandirian Pemeliharaan Alutsista TNI AU
Selanjutnya Dogiyai 111 titik, Paniai 91 titik, Puncak 90 titik, Intan Jaya 70 titik, Puncak Jaya 10 titik, Mimika 8 titik, dan Deiyai 1 titik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena meningkatnya kondisi kering di sejumlah wilayah dapat memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Termasuk untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah.

Khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti semak belukar, hutan, lahan kering, dan lahan gambut.
Masyarakat yang menemukan titik api, asap, atau indikasi kebakaran diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan mencegah kebakaran meluas.
Sementara itu, instansi terkait diharapkan meningkatkan patroli terpadu, pengawasan aktivitas pembukaan lahan.
Serta sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah yang rawan karhutla.
Pemerintah dan masyarakat juga diimbau memastikan ketersediaan sumber air serta peralatan pemadaman dini sebagai langkah antisipasi.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca, iklim, fenomena El Niño.
Serta informasi hotspot terbaru sebagai dasar dalam melakukan langkah antisipasi dan mitigasi.
Masyarakat Nabire dan Papua Tengah diminta tetap waspada, terutama terhadap potensi munculnya titik api di wilayah yang mengalami kondisi kering.
Penulis : Afif Fudin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: BMKG






