
YOGYAKARTA, TNGarda.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, , menegaskan bahwa pejabat publik harus unggul dalam kualitas dan kompetensi, namun tidak boleh bersikap elitis atau berjarak dengan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam siniar Lensamu di Muhammadiyah Channel yang dirilis pada Kamis (4/6/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam refleksinya selama sekitar satu setengah tahun menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, ia menyoroti dua fokus utama yang menjadi prioritas kepemimpinannya, yakni transformasi pendidikan serta perubahan budaya birokrasi di lingkungan kementerian.
Begini Cara NU Care LAZISNU Jaga Daging Kurban Tetap Halal, Sehat, dan Bebas Limbah
Menurut Abdul Mu’ti, salah satu langkah penting yang telah dilakukan adalah meletakkan fondasi transformasi pendidikan dasar dan menengah melalui pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam.
“Paling tidak satu tahun setengah ini saya sudah meletakkan dasar-dasar transformasi pendidikan dasar dan menengah yang sudah jelas.
Misalnya deep learning, walaupun tidak orisinal pikiran saya, tetapi saya mulai terapkan di sini dan ternyata dukungannya luar biasa dari berbagai negara,” ujarnya.
Warga Kuranji Kesulitan Air Bersih, Brimob Sumbar Turun Tangan Salurkan Bantuan hingga ke Permukiman
Selain penguatan sistem pembelajaran, Kemendikdasmen juga melakukan sejumlah perbaikan layanan pendidikan yang berdampak langsung kepada para guru.
Salah satunya adalah perubahan mekanisme pencairan tunjangan guru yang sebelumnya dilakukan setiap tiga bulan sekali menjadi pembayaran bulanan.
Dalam bidang evaluasi pendidikan, Abdul Mu’ti juga memperkenalkan pendekatan baru melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA).
TNI AU dan RAAF Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Strategis, Fokus pada Latihan Udara dan SDM Modern
Kebijakan ini dihadirkan sebagai solusi tengah atas perdebatan panjang mengenai pelaksanaan Ujian Nasional (UN).
“Dulu ada stigma terhadap UN. Saya mencari jalan tengah, al-mutawasitoh, yang tengah itu.
Maka hadir Tes Kemampuan Akademik. Kita hindari kata ujian, kita gunakan kata tes, dan yang diukur jelas kemampuan akademiknya,” jelasnya.
Namun, di balik berbagai kebijakan tersebut, Abdul Mu’ti mengaku lebih ingin meninggalkan warisan berupa budaya kepemimpinan yang terbuka, humanis, dan mudah diakses oleh masyarakat maupun jajaran di bawahnya.
PKS Dukung Prabowo Rombak BGN, Kasus Keracunan MBG Jadi Alarm Keras
Ia menilai seorang pemimpin harus memiliki kualitas terbaik dalam menjalankan tugas, tetapi tetap rendah hati dan tidak menciptakan jarak dengan orang lain.
“Saya bangun budaya di kementerian bahwa pejabat itu boleh elit, tetapi tidak boleh elitis. Jangan menjadi pemimpin yang tidak bisa disentuh dan tidak bisa dihubungi,” tegasnya.
Nilai kepemimpinan tersebut, menurut Abdul Mu’ti, merupakan bagian dari pendidikan dan budaya yang ia peroleh selama berkiprah di lingkungan Muhammadiyah.
Ia berharap budaya kerja yang mengedepankan keterbukaan, pelayanan, dan kedekatan dengan masyarakat dapat terus berkembang di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dengan berbagai langkah transformasi yang telah dijalankan, Abdul Mu’ti berharap fondasi perubahan pendidikan nasional dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi peserta didik, guru, serta seluruh ekosistem pendidikan Indonesia.
Penulis : Afif Fudin
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Muhammadiyah






