
Jakarta, TNGarda.com – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Agus Suryonugroho meminta seluruh jajaran Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) di berbagai daerah untuk aktif membangun komunikasi dan kedekatan dengan komunitas ojek online (ojol) serta berbagai komunitas masyarakat lainnya.
Langkah tersebut dinilai penting guna menciptakan budaya tertib berlalu lintas melalui pendekatan yang lebih humanis dan persuasif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prajurit dan Persit Yonif TP 804/DBAY Gelar Donor Darah Sambut HUT ke 63 Kodam XVII/Cenderawasih
Menurut Kakorlantas, paradigma pelayanan Polantas saat ini harus lebih mengedepankan pendekatan sosial dibanding sekadar penegakan hukum.
Polisi lalu lintas diharapkan hadir sebagai sahabat masyarakat yang mampu membangun hubungan emosional dan kepercayaan publik di lapangan.
Tokoh Agama Papua Puji Satgas Damai Cartenz, Pendekatan Humanisnya Bikin Warga Tersentuh
“Saya mengapresiasi rekan-rekan Dirlantas yang selama ini sudah aktif membangun komunikasi dengan komunitas ojol.
Rangkul mereka, rangkul seluruh komunitas, jalin silaturahmi, dan ke depan kita akan membentuk Asosiasi Ojol Nusantara,” ujar Irjen Pol. Agus Suryonugroho.
Ia menilai para pengemudi ojol memiliki posisi strategis karena setiap hari berada di jalan raya dan berinteraksi langsung dengan kondisi lalu lintas.
Karena itu, komunitas ojol dapat menjadi mitra penting bagi kepolisian dalam memberikan informasi, masukan, serta mendukung terciptanya ketertiban berlalu lintas.
Menurutnya, kedekatan antara Polantas dan komunitas ojol juga mampu membangun rasa saling memiliki dalam menjaga keamanan dan keselamatan di jalan raya.
Dengan komunikasi yang baik, masyarakat akan lebih terbuka untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi terkait kondisi lalu lintas di wilayah masing-masing.
Kasal dan Menteri PKP Resmikan Kampung Gotong Royong di Menteng, Warga Didorong Lebih Sejahtera
“Komunitas ojol ini adalah bagian dari saudara kita yang setiap hari berada di jalan.
Mereka bisa menjadi mitra untuk memberikan informasi, berdiskusi, sekaligus membantu menciptakan ketertiban lalu lintas.
Alhamdulillah, saat saya turun langsung ke lapangan, mereka merasa bangga karena dirangkul dan diajak dekat oleh Polantas,” kata Irjen Pol. Agus Suryonugroho.
Lebih lanjut, Kakorlantas menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi strategi utama dalam membangun kesadaran masyarakat.
Penegakan hukum tetap dilakukan, namun harus dibarengi dengan edukasi, komunikasi, dan silaturahmi agar masyarakat memahami pentingnya keselamatan berlalu lintas.
“Pendekatan kita sekarang bukan lagi semata-mata tilang atau penegakan hukum, tetapi pendekatan hati.
Polantas harus dekat dengan masyarakat, hadir untuk merangkul dan membangun kedekatan agar kesadaran tertib berlalu lintas tumbuh dari diri masyarakat sendiri,” tegasnya.
PBNU Kutuk Serangan Israel di Lebanon Selatan, Ribuan Sipil Tewas dan Jutaan Mengungsi
Ia menambahkan, ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan, maka kesadaran untuk mematuhi aturan lalu lintas akan tumbuh secara alami tanpa adanya paksaan.
Menurutnya, rasa malu untuk melakukan pelanggaran akan muncul ketika hubungan antara polisi dan masyarakat terjalin dengan baik.
“Ketika masyarakat dirangkul dan diajak membangun kedekatan melalui silaturahmi, mereka merasa bangga dan senang.
Dari situ muncul kesadaran sendiri sehingga mereka malu untuk melakukan pelanggaran lalu lintas,” ucap Kakorlantas.
Program humanis tersebut menjadi bagian dari penguatan program “Polantas Menyapa dan Melayani” yang saat ini terus didorong Korps Lalu Lintas Polri di seluruh wilayah Indonesia.
Program ini bertujuan menghadirkan sosok polisi lalu lintas yang lebih dekat, ramah, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Melalui pendekatan humanis dan kolaboratif bersama komunitas ojol maupun masyarakat umum.
Korlantas Polri berharap tercipta budaya tertib berlalu lintas yang tumbuh dari kesadaran bersama demi meningkatkan keselamatan pengguna jalan di Indonesia.






